Tiongkok semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan utama dalam industri robotika global. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya adopsi robot di berbagai sektor, besarnya pasar domestik, serta kebijakan nasional yang mendukung pengembangan robotika dan kecerdasan buatan (AI).
Sekretaris Jenderal Federasi Robotika Internasional (IFR) Susanne Bieller mengatakan perkembangan penggunaan robot di Tiongkok terlihat semakin pesat, tidak hanya di sektor industri tetapi juga di tengah masyarakat.
“Sejak kunjungan terakhir kami ke Tiongkok, sangat mengesankan melihat cepatnya pengadopsian dan minat di berbagai industri, tetapi juga di kalangan masyarakat,” ujar Bieller kepada Xinhua dalam wawancara pada Selasa (22/9).
IFR yang berbasis di Frankfurt, Jerman, merupakan organisasi yang mewakili produsen robotika dan lembaga penelitian di berbagai negara. Organisasi tersebut secara rutin menerbitkan laporan World Robotics yang memantau perkembangan dan tren penggunaan robot industri secara global.
Dalam laporan World Robotics 2026, IFR mencatat Tiongkok memasang sekitar 354.000 robot industri sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang sekitar 59 persen dari total instalasi robot industri di seluruh dunia.
Angka tersebut juga hampir 60.000 unit lebih tinggi dibandingkan rekor tahunan sebelumnya. Kondisi itu semakin memperkuat posisi Tiongkok sebagai pasar robot industri terbesar secara global.
Menurut Bieller, meningkatnya permintaan robot di Tiongkok dipengaruhi sejumlah faktor. Modernisasi industri, perubahan demografi, kebutuhan meningkatkan produktivitas, serta kebijakan industri dan strategi nasional menjadi beberapa pendorong utama.
Perkembangan tersebut juga tidak hanya terjadi pada sektor otomotif yang selama ini menjadi salah satu pengguna utama teknologi otomasi. Bieller melihat masih terdapat peluang besar untuk penerapan robot di berbagai sektor industri lain yang tingkat otomatisasinya belum setinggi industri otomotif.
Ia menjelaskan bahwa perubahan demografis juga mendorong perusahaan mencari teknologi yang dapat membantu mengatasi kebutuhan tenaga kerja. Dalam kondisi tersebut, robot menjadi salah satu teknologi yang dapat mendukung proses produksi dan meningkatkan efisiensi.
Di sisi lain, perusahaan robotika domestik Tiongkok juga semakin kompetitif. Menurut Bieller, perusahaan-perusahaan lokal telah meningkatkan daya saingnya selama satu dekade terakhir sehingga pangsa pasar domestik mereka terus berkembang.
Pada 2025, instalasi robot dari pemasok domestik Tiongkok meningkat 15 persen menjadi sekitar 195.000 unit. Berdasarkan data IFR, produsen lokal menguasai sekitar 55 persen pasar robot industri di Tiongkok pada tahun tersebut.
Pengembangan robotika juga menjadi bagian dari strategi modernisasi industri Tiongkok. Bieller mengatakan Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok untuk periode 2026–2030 memberikan perhatian lebih besar terhadap kemandirian teknologi, modernisasi industri tradisional, serta penerapan AI di dunia fisik.
Salah satu perkembangan yang kini mendapat perhatian adalah teknologi robot humanoid. Perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai mengeksplorasi berbagai penggunaan teknologi tersebut sebagai bagian dari pengembangan teknologi baru.
IFR memperkirakan pasar robot industri Tiongkok masih memiliki ruang untuk berkembang. Pertumbuhannya diproyeksikan berada pada kisaran rata-rata 5–10 persen per tahun hingga 2029.




