Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat dalam penggunaan kecerdasan artifisial (AI), didukung pembangunan infrastruktur digital, investasi teknologi, dan meningkatnya minat masyarakat. Namun, tingginya adopsi belum sepenuhnya diikuti posisi yang kuat dalam investasi dan pengembangan ekosistem AI domestik.
Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat 51 persen responden Indonesia berinteraksi dengan perangkat atau fitur AI setiap hari. Pendapatan aplikasi dengan fitur AI juga meningkat 127 persen pada semester pertama 2025 dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Laporan tersebut mencatat pendanaan swasta AI Indonesia sekitar US$91 juta pada periode semester II 2024 hingga semester I 2025, atau sekitar 4 persen dari total investasi AI di ASEAN-10.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah mencatat Indonesia memiliki 185 pusat data dengan kapasitas sekitar 274 megawatt. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga lebih dari 2.000 megawatt pada 2029 untuk mendukung kebutuhan ekonomi digital dan teknologi AI.
Investasi perusahaan teknologi global juga ikut memperkuat fondasi tersebut. Microsoft telah membuka cloud region Indonesia Central sebagai infrastruktur komputasi awan berskala besar di dalam negeri. Langkah itu merupakan bagian dari komitmen investasi US$1,7 miliar untuk infrastruktur cloud dan AI di Indonesia selama 2024–2028.
Perkembangan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki pasar pengguna AI yang besar sekaligus kebutuhan komputasi yang terus meningkat. Namun, besarnya konsumsi teknologi tidak otomatis membuat nilai ekonomi AI lebih banyak diciptakan oleh perusahaan dan pengembang lokal.
Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat Indonesia memiliki lebih dari 45 perusahaan rintisan AI, sementara Singapura memiliki lebih dari 495. Data tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperbesar jumlah perusahaan teknologi lokal yang mengembangkan model, aplikasi, maupun layanan AI.
Tantangan lainnya berkaitan dengan ketergantungan pada penyedia teknologi. Ketika layanan AI digunakan dalam sektor penting seperti kesehatan, pemerintahan atau industri, perubahan harga, ketentuan layanan, akses teknologi, maupun kebijakan penyedia dapat memengaruhi keberlanjutan layanan pengguna.
Karena itu, penguatan ekosistem AI Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah pusat data. Pengembangan talenta, startup lokal, kapasitas komputasi, tata kelola, keamanan data, serta kemampuan mengembangkan teknologi sendiri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang lebih berdaya tahan.
Pemerintah juga tengah mendorong penguatan regulasi dan infrastruktur AI. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut kebijakan AI nasional diarahkan pada transparansi, akuntabilitas, keamanan, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan talenta digital.
Dengan demikian, perkembangan AI Indonesia kini memasuki tahap ketika ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa banyak masyarakat menggunakan AI, tetapi juga seberapa besar nilai ekonomi, teknologi, talenta, dan inovasi yang dapat dibangun di dalam negeri.




