NVIDIA dan Google Bentuk Koalisi Pusat Data AI

NVIDIA, Google, dan perusahaan rintisan Emerald AI membentuk AI Energy Management Alliance (AEMA) untuk mendorong pengelolaan pusat data kecerdasan artifisial (AI) yang lebih fleksibel di Amerika Serikat. Koalisi tersebut ingin memastikan pertumbuhan pusat data tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap jaringan listrik sekaligus mempercepat proses penyambungan fasilitas baru.

AEMA juga mendorong model pusat data yang tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur listrik secara besar-besaran dengan pembiayaan publik. Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, koalisi mengusulkan agar operator utilitas dapat mempercepat koneksi listrik bagi pusat data yang mampu menyesuaikan konsumsi energinya.

NVIDIA menjelaskan bahwa infrastruktur kelistrikan AS pada dasarnya dirancang untuk menghadapi pola permintaan yang relatif stabil. Sementara itu, pusat komputasi modern dapat mengatur penggunaan energi berdasarkan kondisi jaringan sehingga konsumsi listrik tidak selalu berada pada tingkat yang sama.

Melalui AEMA, para anggota ingin menyusun standar bagi pusat data fleksibel. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan dapat memindahkan beban kerja komputasi, menunda aktivitas tertentu, serta mengurangi penggunaan daya ketika jaringan menghadapi kondisi darurat.

CEO Emerald AI Varun Sivaram mengatakan persoalan koneksi menjadi salah satu tantangan utama pembangunan pusat data baru di AS. Menurutnya, fasilitas baru dapat menunggu hingga satu dekade atau lebih sebelum memperoleh sambungan jaringan karena operator listrik harus memastikan kapasitas mencukupi ketika permintaan mencapai puncaknya.

Sivaram menilai kondisi tersebut dapat dimanfaatkan dengan pendekatan pusat data fleksibel. Ia menyebut jaringan listrik AS rata-rata hanya digunakan sekitar 50 persen. Jika pusat data dapat mengurangi konsumsi pada periode paling kritis, kapasitas hingga 100 gigawatt (GW) dari jaringan yang sudah tersedia berpotensi dimanfaatkan.

AEMA mengusulkan sejumlah prinsip, termasuk aturan agar pusat data tetap terhubung saat terjadi gangguan singkat, mengurangi penggunaan energi ketika diperlukan, dan merespons kondisi darurat jaringan.

Selain itu, koalisi akan mendorong standardisasi persyaratan teknis, indikator kinerja, serta mekanisme berbagi data operasional. Model tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat pembangunan pusat data AI sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

About The Author