
Tokopedia kembali diterpa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah proses integrasi bisnis dengan TikTok yang telah menjadi pemegang saham mayoritas sejak akhir 2023. Restrukturisasi terbaru dikabarkan menyasar tim riset dan pengembangan (research and development/R&D), sebagai bagian dari penyesuaian organisasi yang dilakukan perusahaan untuk mendukung strategi bisnis jangka panjang.
Manajemen TikTok mengonfirmasi adanya penyelarasan struktur organisasi di Tokopedia. Meski demikian, perusahaan tidak mengungkap jumlah pasti karyawan yang terdampak. Dalam keterangannya, TikTok menyebut keputusan tersebut bukan langkah yang mudah dan perusahaan berkomitmen memberikan dukungan kepada para pekerja yang terkena dampak selama masa transisi berlangsung.
Isu PHK kali ini mencuat setelah beredar informasi di media sosial yang menyebut sebagian besar tenaga kerja Tokopedia terkena efisiensi. Hingga kini, perusahaan belum memberikan rincian mengenai angka tersebut. TikTok hanya menegaskan bahwa perubahan dilakukan untuk memfokuskan pengembangan pada bidang yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan, termasuk mendukung komunitas penjual dan kreator di platformnya.
Gelombang efisiensi bukan kali pertama terjadi sejak TikTok mengakuisisi 75 persen saham Tokopedia dari GoTo pada akhir 2023. Sekitar enam bulan setelah transaksi selesai, perusahaan memangkas sekitar 450 karyawan sebagai bagian dari proses integrasi. Restrukturisasi kembali berlanjut sepanjang 2025 dengan ratusan pegawai dari berbagai divisi, seperti teknologi informasi, layanan pelanggan, pemenuhan pesanan, hingga operasional gudang, turut terdampak.
Sejumlah sumber industri menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menghilangkan tumpang tindih fungsi antara tim Tokopedia dan TikTok Shop setelah kedua bisnis digabungkan. Integrasi juga disebut membuat sebagian fungsi teknis dipusatkan di luar Indonesia agar proses pengembangan sistem menjadi lebih efisien. Perusahaan sendiri belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai perubahan struktur operasional tersebut.
Restrukturisasi menjadi bagian dari strategi TikTok setelah menggelontorkan investasi sekitar US$1,5 miliar untuk mengakuisisi mayoritas saham Tokopedia dan menggabungkan operasional TikTok Shop di Indonesia. Melalui proses tersebut, perusahaan menargetkan terciptanya organisasi yang lebih ramping dan efisien agar mampu memperkuat daya saing di industri perdagangan elektronik yang semakin kompetitif. Meski kembali melakukan efisiensi tenaga kerja, TikTok menegaskan fokus utama perusahaan tetap pada pengembangan layanan, peningkatan pengalaman pengguna, serta mendukung pertumbuhan ekosistem penjual dan kreator di Indonesia.







