Tim peneliti dari Australia dan China mengembangkan teknologi inovatif berupa arteri di atas chip (artery-on-a-chip) yang mampu meniru struktur pembuluh darah serta pola aliran darah setiap pasien. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi risiko stroke sekaligus membuka jalan bagi pengobatan yang lebih dipersonalisasi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Biomaterials memperkenalkan perangkat tersebut sebagai “physical twin” atau kembaran fisik pembuluh darah pasien. Melalui teknologi ini, ilmuwan dapat mempelajari bagaimana bentuk pembuluh darah dan karakteristik aliran darah memengaruhi kemungkinan terjadinya stroke.
Bentuk Arteri Dinilai Lebih Berpengaruh
Selama ini, tingkat penyempitan pembuluh darah sering menjadi indikator utama dalam menilai risiko stroke. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk arteri dan gangguan aliran darah lokal kemungkinan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan penyempitan pembuluh darah semata.
Temuan tersebut memberikan perspektif baru dalam memahami penyebab stroke, terutama pada pasien yang memiliki tingkat penyempitan arteri yang hampir sama tetapi menunjukkan tingkat risiko yang berbeda.
Penulis utama penelitian, Zhao Yunduo dari Universitas Sydney, mengatakan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu pengembangan obat-obatan baru yang dirancang untuk menurunkan risiko stroke berdasarkan kondisi anatomi masing-masing pasien.
Rekonstruksi Pembuluh Darah Pasien
Untuk menguji efektivitas platform tersebut, para peneliti merekonstruksi arteri karotis dari enam pasien dengan tingkat penyakit yang berbeda. Selanjutnya, mereka menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD) atau dinamika fluida komputasional untuk mensimulasikan aliran darah di dalam pembuluh tersebut. Hasil simulasi menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pola aliran darah lokal, meskipun tingkat penyempitan arteri pada beberapa pasien relatif serupa.
Simulasi Pembentukan Bekuan Darah
Dalam eksperimen lanjutan, tim peneliti menggunakan teknologi laser untuk menciptakan luka mikro pada lapisan kolagen yang menyerupai kondisi pembuluh darah manusia. Pengamatan menunjukkan bahwa proses pembentukan bekuan darah berlangsung dengan pola yang berbeda-beda, bergantung pada bentuk dan struktur arteri masing-masing pasien. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa karakteristik anatomi pembuluh darah memainkan peran penting dalam menentukan risiko terjadinya stroke.
Menuju Pengobatan yang Lebih Personal
Saat ini, tim peneliti tengah merekrut pasien stroke untuk mengikuti uji klinis guna mengevaluasi manfaat teknologi tersebut dalam praktik medis.
Apabila hasil penelitian lanjutan menunjukkan efektivitas yang konsisten, perangkat arteri di atas chip berpotensi menjadi alat penting dalam dunia kedokteran modern. Selain membantu dokter mengidentifikasi pasien dengan risiko stroke lebih tinggi, teknologi ini juga dapat mempercepat pengembangan terapi yang disesuaikan dengan kondisi biologis setiap individu. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus mendukung penerapan layanan kesehatan presisi di masa depan.




